Artikel

ARTI KEMERDEKAAN

Saepudin

Saat-saat getir pernah dialami bangsa kita di masa lalu. Sudah berapa butir air mata keluar dari mata para perempuan negeri ini, dan sudah berapa luka dan darah yang ditorehkan senjata di bahu para pemuda yang berjuang membela negara kita tercinta hanya untuk kata MERDEKA. Bangsa kita yang dijajah oleh penjajah melawan sekuat tenaga mengorbankan harta, jiwa, dan raga nya untuk membela tanah air Indonesia berakhir dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Semenjak 17 Agustus 1945 hingga hari ini, bangsa Indonesia selalu memperingati dirgahayunya setiap tahun dengan berbagai seremonial maupun perlombaan. Kemerdekaan merupakan torehan tinta emas sejarah yang mengantarkan Indonesia ke fase perjuangan baru. Selain itu, ada banyak arti kemerdekaan bagi rakyat Indonesia dan di antaranya adalah sebagai berikut;

a. Puncak Perjuangan Melawan Penjajahan
b. Merupakan Pernyataan De Facto
c. Menaikkan Harkat dan Martabat Bangsa
d. Fase Baru Perjuangan Nasional
e. Kesejahteraan Rakyat dan Tegaknya Pancasila

Pertanyaannya adalah, sudahkah kita benar-benar merdeka?

Adalah tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas. Berbagai sudut pandang akan mempengaruhi pendapat individu ataupun golongan dalam menjawab pertanyaan itu. Gambaran banyaknya kemiskinan, kelaparan, tuna wisma sebenarnya bisa dijadikan satu barometer apakah negeri ini benar-benar merdeka atau belum. Di negara-negara maju memang dijumpai pengemis, tuna wisma dll. Akan tetapi, Indonesia sebagai negara yang merdeka dan kaya raya mempunyai jumlah pengemis dan tuna wisma terbanyak. Rakyat yang merdeka seharusnya menikmati kehidupan yang baik,cukup sandang dan pangan serta papan. kalaupun ada pengemis seharusnya memang hal itu karena “kesalahan” pada dirinya sendiri, bukan karena kesalahan negara yang memang tidak mampu memerdekakan mereka. Namun jika kita memandang dari sudut positivism, sepatunyalah kita mensyukuri segala nikmat kemerdekaan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Bagi para Pelajar  yang menuntut ilmunya sepanjang hayat, ingatlah  bahwa kemerdekaan bagi kita adalah rahmat. Kita bisa menuntut ilmu yah , karena kemerdekaan . Coba bayangkan , saat kita tidak memiliki kemerdekaan , kita tidak punya hak untuk bertanya , apalagi menuntut ilmu .Oleh karena itu , dalam hal ini HUT 71, hari kemerdekaan harusnya bisa membangkitkan semangat kita untuk berjuang melawan  kebodohan . Karena kebodohan pangkal kehancuran. Kita harusnya bisa merasakan semangat para pejuang Garuda yang membela tanah air hanya untuk satu kata ” Kemerdekaan ” . 17 Agustus saat yang telah di bayar oleh pejuang kita.

Sumber:

” Makna kemerdekaan bagi Pelajar “

http://gurupintar.com/threads/jelaskan-apa-arti-kemerdekaan-bagi-rakyat-indonesia.726/

http://www.kompasiana.com/telomania/arti-kemerdekaan-untuk-bangsaku-indonesia_550da1328133114322b1e6c2


ASPEK IDEAL BAGI PEMBELAJARAN

Saepudin

Terdapat 5 aspek penting yang dapat kita perhatikan selama guru mengajar. Ke-5 aspek ini apabila dilakukan secara baik, maka pembelajaran yang baik (ideal) pun akan dapat dilaksanakan.  Kelima aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1. Persiapan

Keberhasilan pelaksanaan suatu kegiatan, sebagian besar ditopang oleh persiapan yang memadai. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran akan berpeluang besar untuk berhasil bila dipersiapkan sebaik mungkin. Persiapan pembelajaran yang baik tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan memuat tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan kalimat yang jelas; materi pembelajaran yang akan diberikan linier dengan materi pembelajaran sebelumnya; kemudian, media pembelajaran, setting ruangan kelas, dan kondisi siswa sendiri perlu dipersiapkan agar pembelajaran bisa berjalan sesuai harapan.

2. Presentasi/Penyajian

Hal lain yang juga berperan besar dalam keberhasilan mengajar adalah penyajian (presentasi). Penting sekali bagi guru untuk terlebih dahulu menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai pada saat presentasi. Selain itu, di dalam presentasi, guru sebaiknya memotivasi siswa, menarik perhatian, dan menjelaskan materi pembelajaran dengan teknik-teknik tertentu sehingga jelas dan mudah dipahami siswa. Selama proses pembelajaran guru juga sebaiknya memberikan kesempatan untuk bertanya kepada siswa serta mengajak siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada akhir kegiatan pembelajaran.

3. Metode Pembelajaran/ Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran yang tidak monoton dan membosankan seringkali menjadi penentu keberhasilan dari penyajian pembelajaran. Untuk memastikan siswa belajar dengan baik, guru sebaiknya bergerak secara dinamis di dalam kelasnya. Manakala ada siswa yang membutuhkan bantuannya di bagian-bagian tertentu kelas, maka guru harus bergerak dan menghampiri secara berimbang dan tidak terfokus hanya pada beberapa orang siswa saja.

Tidak kalah pentingnya bagi guru selama pembelajaran berlangsung untuk memberikan reinforcement (penguatan) kepada siswa-siswanya dengan cara yang positif. Salah satu hal positif yang berdampak signifikan adalah mengenali dan mengetahui nama setiap siswa yang ada di dalam kelasnya karena hal tersebut biasanya akan memotivasi semangat belajar siswa.

Dalam hal memberikan ilustrasi dan contoh, baik melalui media pembelajaran ataupun teks lisan, maka hendaknya dipilih secara hati-hati sehingga benar-benar efektif. Untuk mengukur efektifitas pembelajaran maka siswa perlu diberi latihan. Terkait dengan hal tersebut, perlu dipahami bahwa kesalahan adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, guru haruslah selalu bersikap sabar dan optimis bahwa siswa akan belajar dari kesalahananya sehingga mendapatkan pemahaman yang benar.

4. Karakteristik Pribadi Guru

Guru yang berkepribadian baik sering dikatakan menjadi penentu utama dari pembelajaran yang baik. Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226) menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Mengacu kepada standar nasional pendidikan, kompetensi kepribadian guru meliputi,

(1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang indikatornya bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial. Bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma;

(2) Memiliki kepribadian yang dewasa, dengan ciri-ciri, menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja;

(3) Memiliki kepribadian yang arif, yang ditunjukkan dengan tindakan yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak;

(4) Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani;

(5) Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan, dengan menampilkan tindakan yang sesuai dengan norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

5. Interaksi Selama Proses Pembelajaran

Di dalam proses pembelajaran yang baik terjadi interaksi yang baik pula yang misalnya ditunjukkan oleh:

  • guru yang senantiasa memancing siswa untuk berdiskusi; terbentuk iklim yang sehat dan mendukung dimana siswa dapat merasa bebas untuk bertanya, mengajukan pendapat, menjawab pertanyaan tanpa ada rasa takut dilecehkan, ditertawakan, atau dianggap bodoh;
  • guru mengarahkan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tidak menyimpang dari hal tersebut; selama proses pembelajaran berlangsung siswa terlibat dalam kegiatan melalui interaksi satu sama lain atau dengan guru;
  • Siswa tetap santai dan enjoy walaupun kadang-kadang diberikan tugas-tugas belajar tertentu yang sifatnya menegangkan secara akademis;
  • guru menunjukkan sikap yang tidak memihak ke salah satu kelompok, selalu berusaha adil dan menghormati semua orang yang ada di dalam kelasnya;
  • siswa terdorong untuk bekerja semaksimal mungkin;
  • guru senantiasa memperhatikan kebutuhan siswa baik secara individu ataupun kelompok;
  • apabila terjadi penyimpangan maka guru justru dapat menggunakannya secara positif untuk pembelajaran dan tidak berlebihan.

Sumber:

https://rudien87.wordpress.com/2010/03/20/kompetensi-kepribadian/

http://penelitiantindakankelas.blogspot.co.id/2013/10/instrumen-PTK-Lembar-Observasi-Aktivitas-Guru.html


Belajar Bermakna

Mengajar hanya berhasil bila diberi pelajaran yang bermakna. Ini adalah pendapat dari psikolog dewasa ini, tentunya setelah berpuluh tahun mengadakan penyelidikan. Untuk mencapai hasil yang autentik, yang sejati, yang tahan lama, mengajar memang harus berdasarkan pelajaran yang mengandung makna bagi anak-anak.

Seorang anak mengalami kesukaran dalam mempelajari ilmu ukur, walaupun ia termasuk anak pandai. Pada suatu hari diketahui oleh ayahnya bahwa anak itu mempelajari masalah balistik karena ia ingin mengetahui seluk beluk senapan yang diterimanya pada hari ulang tahunnya. Pelajaran ilmu ukur di sekolah tidak mengandung arti bagi anak itu sedangkan ballistik yang banyak menggunakan ilmu pasti merupakan masalah yang sungguh-sungguh bermakna baginya.

Banyak pelajaran di sekolah tidak bermakna baginya tidak memberi hasil yang autentik karena tidak mengandung arti bagi anak. Akibatnya anak-anak menghapalnya di luar kepala tanpa memahaminya dan segera melupakannya pula.

Akhli-akhli ilmu jiwa pernah mendemonstrasikan bahwa menghafal suatu kalimat jauh lebih cepat daripada serentetan suku-suku kata yang tak mempunyai arti. Suku-suku kata itu cepat dilupakan karena tak bermakna, sementara suatu kalimat, suatu prosa atau sajak dapat dibaca dengan cepat dan diingat berminggu-minggu lamanya. Penyelidikan ini membuktikan dengan tegas bahwa berhasil tidaknya belajar bergantung pada makna dari apa yang dipelajari.

DSC00711Apa sebab dalam mengajar harus ditekankan makna atau pengertian agar mencapai sukses. Sebabnya ialah belajar itu adalah usaha mencari dan menemukan makna atau pengertian. Inilah sifat hakiki dari belajar. Guru yang memberi latihan-latihan dan hafalan yang tak dipahami siswa berbuat bertentangan dengan hakekat proses belajar. Sebaliknya guru yang selalu berusaha membantu anak didiknya agar mengerti, berbuat sesuai dengan hakekat proses belajar.

Salah satu hasil penyelidikan psikologi yang paling berharga bagi pengajaran, ialah bahwa inti dan hakekat belajar ialah: menangkap, menjelaskan, dan menggunakan pengertian.

Prinsip-prinsip belajar yang dapat mendukung tercipta proses belajar bermakna diantaranya:

  1. Belajar selalu mulai dengan suatu problema dan berlangsung sebagai usaha untuk memecahkan masalah itu. Masalah itu harus suatu problema yang riil, yang mendesak, yang urgen bagi anak didik itu sendiri,
  2. Proses belajar selalu merupakan suatu usaha untuk memecahkan suatu masalah yang sungguh-sungguh dengan menangkap atau memahami hubungan antara bagian-bagian problema itu.
  3. Belajar itu berhasil bila disadari telah ditemukan “clue” atau hubungan antara unsur-unsur dalam problema itu sehingga diperoleh “insight” atau wawasan. Insight dapat timbul dengan tiba-tiba, dapat pula secara berangsur-angsur atau dengan susah payah.

Belajar adalah memahami, belajar adalah usaha mencari, menemukan, dan melihat seluk beluk sesuatu untuk menemukan makna atau pengertian karena manusia dengan akal yang dianugrahkanNya dapat mempelajari segala sesuatu yang sama sekali sebelumnya tak bermakna dan dipahami menjadi bermakna bahkan berguna bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Berhasil dan tidaknya suatu pelajaran tergantung pada taraf makna yang dikandung pelajaran itu bagi peserta didik. Mengajar dengan baik harus didasari pemahaman oleh seorang guru atas pelajaran yang akan disampaikannya mengandung makna atau tidak bagi peserta didiknya. Mengajar bukanlah sebuah rutinisme yang bersifat mekanis semata, tapi lebih dari itu mengajar pada dasarnya memberikan penyadaran akan kebermaknaan dan kebergunaan segala sesuatu hal yang ada di sekitar kehidupan peserta didik.

dysf, 2015


 

Mempertimbangkan Kecedasan Majemuk Peserta Didik dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

 

Kompetensi adalah seperangkat sikap, keterampilan dan pengetahuan yang harus kita miliki agar bisa bertindak cerdas, bertanggungjawab dan dianggap sudah memiliki kemampuan dasar oleh mayarakat yang lebih luas. Dalam era Masyarakat Ekonomi Asia sekarang ini suatu kompetensi yang standar adalah bekal bersaing dan berintekasi secara global. Kemampuan dasar yang dimiliki bisa menjadi bekal hidup sehar-hari yang selanjutnya bisa dikembangkan terus sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Di sekolah kompetensi-kompetensi dasar yang harus dipelajari dan dikuasai biasanya sudah di rumuskan sedemikian rupa dalam suatu silabus yang dikembangkan oleh guru secara mandiri atau melalui kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran dengan mempertimbangkan standar-standar minimal yang sudah dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Selanjutnya pada tingkat proses pembelajaran di ruang kelas, seorang guru harus mampu mengemas dan menjabarkan silabus tersebut kedalam bentuk perencanaan instruksi yang lebih ringkas dan bisa dilaksanakan. Pada tahap ini perencanaan instruksi praktis ini dalam dunia pendidikan disebut Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP), dan biasanya setelah RPP ini jadi dan dilaksanakan di dalam kelas barulah seorang guru bisa mengerti apakah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sudah tuntas tercapai atau belum dan apakah sudah menghasilkan perubahan yang efektif pada diri peserta didik. Selanjutnya, apakah perlu dilaksanakan remedial atau bahkan pengayaan (enrichment) karena ada peserta didik yang melampaui batas minimal kompetensi yang disyaratkan oleh RPP itu. Tahap perencanaan ini sangat krusial bagi seorang guru karena seperti diyakini bahwa gagal dalam merencanakan (gagal membuat RPP) bisa berarti sedang merancang kegagalan proses pembelajaran.

Seorang guru wajib menyusun sendiri RPP yang baik agar proses pembelajaran dalam kelas berlangsung menarik. Jadi tidak hanya copy paste atau fotokopi yang sudah ada. Agar proses pembelajaran menarik setidaknya tiga hal harus diperhatikan yaitu materi yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya dan karaktersitik masing-masing peserta didik. Materi pelajaran bisa merujuk kepada silabus. Cara menyampaikan mungkin sudah ada dibenak para guru, tapi karakteristik peserta didik kita perlu mencari tahu sendiri. Karakteristik peserta didik termasuk apa yang dikemukakan oleh pakar Kecerdesan Majemuk atau Multiple Intelegence (MI)  Prof. Howard Gardner: “We are not all the same, we do not all have the same kinds of minds, and education works most effectively for most individuals if…human differences are taken seriously”. Teori ini menjelaskan bahwa kita semua tidak sama dan tidak memiliki kemampuan berpikir dan pikiran yang sama. Oleh sebab itu proses pendidikan akan berjalan sangat efektif bagi kebanyakan orang jika perbedaan-perbedaan yang ada pada manusia dipertimbangkan dengan serius. Artinya anggapan tradisional mengenai kecerdasan yang hanya didasarkan kepada hasil tes IQ dianggap terlalu sempit. Menurut Gardner setiap individu memiliki kecerdasan-kecerdasan dalam aspek lingustik, logik-matematik, spasial, kinestetik, musikal, interpesonal, intrapersonal dan natural.

Seperangkat kecerdasan yang dimiliki individu tersebut mungkin ada yang lebih dominan atau berkembang. Singkatnya bukan ‘seberapa cerdas peserta didik’ tapi ‘bagaimana profil cerdas peserta didik’. Itu yang harus diketahui. Misalnya siswa dengan kecerdasan musikal yang tinggi cenderung bisa lebih menikmati dan mencerna suatu pembelajaran jika disampaikan dengan memasukan atau melibatkan unsur-unsur atau simbol-simbol musik. Lalu, bagaimana caranya memasukan prinsip-prinsip MI ini kedalam bentuk praktis dan operasional dalam RPP yang menjadi andalan, pegangan dan kendali seorang guru? Poin-poin berikut mungkin bisa membantu menyusun RRP yang mempertimbangkan aspek kecerdasan majemuk peserta didik:

Pertama, yakinkan diri bahwa dengan mempertimbangkan dan mengaplikasikan prinsip MI peserta didik akan terfasilitasi dengan baik. Artinya guru akan mengajar dengan berbagai pendekatan, metoda dan alat bantu atau peraga.

Kedua, ketika RPP sedang dirancang, selalu bayangkan para peserta didik dengan ragam kecerdasan yang berbeda-beda kadarnya bukan tinggi rendahnya IQ peserta didik atau pintar dan bodohnya peserta didik.

Ketiga, bagaimana kita akan memaksimalkan penggunaan angka, perhitungan atau penggolongan ketika mengajar di ruang kelas (aspek logikmatematik).

Keempat, bagaimana kita akan memanfaatkan alat-alat bantu visual seperti ruang, gambar dan warna (aspek spasial).

Kelima, bagaimana kita akan melibatkan atau mengadakan aktifitas fisik selama pembelajaran untuk bisa mencapai semua peserta didik (aspek kinestetik).

Keenam, bagaimana kita bisa memfasilitasi peserta didik belajar secara berkelompok sehingga terjadi interaksi positif yang memperkuat pembelajaran, misalnya melalui cooperative learning dan simulasi (aspek interpersonal). Selanjutnya ketujuh, bagaimana perasaan atau memori personal siswa terakomodasi atau terfasilitasi sehingga menjadi energi positif selama pembelajaran (aspek intrapersonal).

Poin-poin diatas hanyalah contoh dan inovasi selanjutnya kreatifitas para guru dalam merancang RPP memungkinkan untuk mengeksplorasi lebih jauh setiap aspek sesuai dengan keadaan dan kesiapan sarana dan prasarana di sekolah. Hanya perlu diingat bahwa dengan mempertimbangkan MI dalam RPP harusnya mempermudah kegiatan pembelajaran di kelas karena MI lebih membuka dan memberikan cakrawala serta wawasan para guru tentang karakteristik peserta didik dan bukannya mempersulit atau bahkan terhenti atau terkendala karena minimnya sarana dan prasarana di sekolah. MI itu sendiri merupakan sarana dan prasaranan yang tak tergantikan.

Penulis: (Adam) A. Supriatna, S.Pd.


Mempertimbangkan kecedasan majemuk peserta didik dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Kompetensi adalah seperangkat sikap, keterampilan dan pengetahuan yang harus kita miliki agar bisa bertindak cerdas, bertanggungjawab dan dianggap sudah memiliki kemampuan dasar oleh mayarakat yang lebih luas. Dalam era Masyarakat Ekonomi Asia sekarang ini suatu kompetensi yang standar adalah bekal bersaing dan berintekasi secara global. Kemampuan dasar yang dimiliki bisa menjadi bekal hidup sehar-hari yang selanjutnya bisa dikembangkan terus sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Di sekolah kompetensi-kompetensi dasar yang harus dipelajari dan dikuasai biasanya sudah di rumuskan sedemikian rupa dalam suatu silabus yang dikembangkan oleh guru secara mandiri atau melalui kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran dengan mempertimbangkan standar-standar minimal yang sudah dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Selanjutnya pada tingkat proses pembelajaran di ruang kelas, seorang guru harus mampu mengemas dan menjabarkan silabus tersebut kedalam bentuk perencanaan instruksi yang lebih ringkas dan bisa dilaksanakan. Pada tahap ini perencanaan instruksi praktis ini dalam dunia pendidikan disebut Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP), dan biasanya setelah RPP ini jadi dan dilaksanakan di dalam kelas barulah seorang guru bisa mengerti apakah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sudah tuntas tercapai atau belum dan apakah sudah menghasilkan perubahan yang efektif pada diri peserta didik. Selanjutnya, apakah perlu dilaksanakan remedial atau bahkan pengayaan (enrichment) karena ada peserta didik yang melampaui batas minimal kompetensi yang disyaratkan oleh RPP itu. Tahap perencanaan ini sangat krusial bagi seorang guru karena seperti diyakini bahwa gagal dalam merencanakan (gagal membuat RPP) bisa berarti sedang merancang kegagalan proses pembelajaran.

Seorang guru wajib menyusun sendiri RPP yang baik agar proses pembelajaran dalam kelas berlangsung menarik. Jadi tidak hanya copy paste atau fotokopi yang sudah ada. Agar proses pembelajaran menarik setidaknya tiga hal harus diperhatikan yaitu materi yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya dan karaktersitik masing-masing peserta didik. Materi pelajaran bisa merujuk kepada silabus. Cara menyampaikan mungkin sudah ada dibenak para guru, tapi karakteristik peserta didik kita perlu mencari tahu sendiri. Karakteristik peserta didik termasuk apa yang dikemukakan oleh pakar Kecerdesan Majemuk atau Multiple Intelegence (MI)  Prof. Howard Gardner: “We are not all the same, we do not all have the same kinds of minds, and education works most effectively for most individuals if…human differences are taken seriously”. Teori ini menjelaskan bahwa kita semua tidak sama dan tidak memiliki kemampuan berpikir dan pikiran yang sama. Oleh sebab itu proses pendidikan akan berjalan sangat efektif bagi kebanyakan orang jika perbedaan-perbedaan yang ada pada manusia dipertimbangkan dengan serius. Artinya anggapan tradisional mengenai kecerdasan yang hanya didasarkan kepada hasil tes IQ dianggap terlalu sempit. Menurut Gardner setiap individu memiliki kecerdasan-kecerdasan dalam aspek lingustik, logik-matematik, spasial, kinestetik, musikal, interpesonal, intrapersonal dan natural.

Seperangkat kecerdasan yang dimiliki individu tersebut mungkin ada yang lebih dominan atau berkembang. Singkatnya bukan ‘seberapa cerdas peserta didik’ tapi ‘bagaimana profil cerdas peserta didik’. Itu yang harus diketahui. Misalnya siswa dengan kecerdasan musikal yang tinggi cenderung bisa lebih menikmati dan mencerna suatu pembelajaran jika disampaikan dengan memasukan atau melibatkan unsur-unsur atau simbol-simbol musik. Lalu, bagaimana caranya memasukan prinsip-prinsip MI ini kedalam bentuk praktis dan operasional dalam RPP yang menjadi andalan, pegangan dan kendali seorang guru? Poin-poin berikut mungkin bisa membantu menyusun RRP yang mempertimbangkan aspek kecerdasan majemuk peserta didik:

Pertama, yakinkan diri bahwa dengan mempertimbangkan dan mengaplikasikan prinsip MI peserta didik akan terfasilitasi dengan baik. Artinya guru akan mengajar dengan berbagai pendekatan, metoda dan alat bantu atau peraga.

Kedua, ketika RPP sedang dirancang, selalu bayangkan para peserta didik dengan ragam kecerdasan yang berbeda-beda kadarnya bukan tinggi rendahnya IQ peserta didik atau pintar dan bodohnya peserta didik.

Ketiga, bagaimana kita akan memaksimalkan penggunaan angka, perhitungan atau penggolongan ketika mengajar di ruang kelas (aspeklogikmatematik).

Keempat, bagaimana kita akan memanfaatkan alat-alat bantu visual seperti ruang, gambar dan warna (aspek spasial).

Kelima, bagaimana kita akan melibatkan atau mengadakan aktifitas fisik selama pembelajaran untuk bisa mencapai semua peserta didik (aspek kinestetik).

Keenam, bagaimana kita bisa memfasilitasi peserta didik belajar secara berkelompok sehingga terjadi interaksi positif yang memperkuat pembelajaran, misalnya melalui cooperative learning dan simulasi (aspek interpersonal). Selanjutnya ketujuh, bagaimana perasaan atau memori personal siswa terakomodasi atau terfasilitasi sehingga menjadi energi positif selama pembelajaran (aspek intrapersonal).

Poin-poin diatas hanyalah contoh dan inovasi selanjutnya kreatifitas para guru dalam merancang RPP memungkinkan untuk mengeksplorasi lebih jauh setiap aspek sesuai dengan keadaan dan kesiapan sarana dan prasarana di sekolah. Hanya perlu diingat bahwa dengan mempertimbangkan MI dalam RPP harusnya mempermudah kegiatan pembelajaran di kelas karena MI lebih membuka dan memberikan cakrawala serta wawasan para guru tentang karakteristik peserta didik dan bukannya mempersulit atau bahkan terhenti atau terkendala karena minimnya sarana dan prasarana di sekolah. MI itu sendiri merupakan sarana dan prasaranan yang tak tergantikan.

Penulis: (Adam) A. Supriatna, S.Pd.


 

Mengembangkan Kecerdasan Naturalistik di SMP Negeri 2 Cipanas

Prof Gardner, pakar dan pencetus teori kecerdasan majemuk atau populer dengan istilah Multiple Intelligence, mengemukakan adanya kecerdasan pada  manusia yang ternyata tidak tunggal tapi majemuk. Jadi tidak hanya IQ atau Intellegence Quotion saja seperti yang telah lama dikenal dan sering dijadikan ukuran kecerdasan seseorang. Setidaknya ada delapan potensi kecerdasan melekat pada manusia yang salah satunya adalah kecerdasan naturalistik atau naturalistic intelligence. Mereka yang memiliki potensi kecerdasan ini akan peka, peduli, mudah memahami, dan sangat tertarik dengan fenomena alam sekitarnya termasuk segala perubahan yang terjadi. Charles Darwin mungkin salah satu contoh ideal manusia dengan tingkat kecerdasan naturalistik yang tinggi. Minat dan sumbangsihnya terhadap pengetahuan sejarah alam sangat fenomenal.

Dalam konteks kekinian, kecerdasan naturalistik sangat dibutuhkan dan perlu dikembangkan kearah yang positif mengingat kondisi alam yang terus mengalami tekanan dan kerusakan yang signifikan yang kerusakan itu kebanyakan dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Penebangan liar, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, dan perburuan flora dan fauna telah menempatkan banyak jenis menjadi langka dan berada pada ambang kepunahan dan bahkan banyak yang sudah punah. Akumulasi pengrusakan terhadap alam ini bahkan telah menjadi ancaman global yang nyata yaitu naiknya rata-rata suhu bumi sehingga terjadi pemanasan global. Fenomena ini menunjukan semakin rendahnya kecerdasan naturalistik manusia atau semakin banyak manusia yang kecedasan naturalistiknya tidak terkembangkan.

Akibat tidak dikembangkan potensi kecerdasan naturalistiknya orang menjadi tidak cerdas ketika harus membuat peraturan untuk melindungi kekayaan alam atau mengadili pelaku kejahatan terhadap alam; menjadi tidak cerdas ketika akan membuka lahan hutan untuk perusahaan atau perkembunan, atau menjadi tidak cerdas ketika mendorong kegiatan pembangunan dengan merusak lahan hutan dan semakin menjauhkan manusia dari mengenal dan memahami alam.

Bagaimana potensi kecerdasan ini berkembang? Pada prinsipnya manusia memiliki semua kecerdasan seperti yang disebutkan oleh Prof Gardner yang tentunya dengan kadar yang berbeda-beda, dan kecerdasan itu bisa berkembang, menurun, atau bahkan rusak.

Gerakan perlindungan lingkungan dari yang paling ekstrim seperti yang dikembangkan Green Peace atau upaya-upaya perubahan budaya dan gaya hidup yang lebih organis adalah sebagian kecil contoh kegiatan yang bisa menumbuhkan potensi kecerdasan naturalistik kita. Dalam aktifitas yang lebih sederhana, kegiatan berkemah, lintas alam, birdwatching juga bisa dijadikan kegiatan yang bisa menumbuhkan kecerdasan naturalistik kita, asal kegiatan itu memang diarahkan untuk upaya memahami dinamika dan kompleksitas alam ini.

Penulis: (Adam) A. Supriatna


Peringatan Hari Pahlawan Di SMP Negeri 2 Cipanas

Sepertinya, bagi banyak di antara kita, tidak perlu lagi untuk diingatkan bahwa tanggal 10 November merupakan salah satu di antara berbagai hari bersejarah yang teramat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak lebih dari setengah abad yang lalu, tanggal 10 November telah dinyatakan oleh bangsa kita sebagai Hari Pahlawan. Di zaman Sukarno-Hatta, hari itu diperingati secara nasional (artinya: di mana-mana, di seluruh negeri) sebagai Hari Besar yang dirayakan secara khidmat, dan dengan rasa kebanggaan yang besar.

 

Pada kurun waktu itu, peringatan Hari Pahlawan merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa bukan saja untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang – yang tak terhitung jumlahnya dalam perjuangan bersama bagi tegaknya Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

Dengan kekalahan Jepang menghadapi Sekutu, maka kemerdekaan bangsa Indonesia telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus, yaitu ketika pasukan pendudukan Jepang masih belum dilucuti oleh Sekutu. Sejak itulah terjadi berbagai gerakan rakyat untuk melucuti senjata pasukan Jepang, sehingga terjadi pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah.

Perkembangan sejak mendaratnya tentara Inngris di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa kehadirannya (atas nama Sekutu) itu telah diboncengi oleh rencana pihak Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Tentara Inggris (Sekutu) yang datang ke Indonesia juga mengikutkan NICA (Netherlands Indies Civil Adminsitration). Kenyataan inilah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana. Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda Merah-Putih-Biru di hotel Yamato telah melahirkan ‘Insiden Tunjungan’, yang menyundut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat.

Kebesaran arti pertempuran Surabaya, yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, bukanlah hanya karena begitu banyaknya pahlawan – baik yang dikenal maupun tidak di kenal _ yang telah mengorbankan diri demi Republik Indonesia. Bukan pula hanya karena lamanya pertempuran secara besar-besaran dan besarnya kekuatan lawan. Di samping itu semua, kebesaran arti pertempuran Surabaya juga terletak pada peran dan pengaruhnya, bagi jalannya revolusi waktu itu. Pertempuran Surabaya telah dapat memobilisasi rakyat banyak untuk ikut serta, baik secara aktif maupun pasif, dalam perjuangan melawan musuh bersama waktu itu, yaitu tentara Inggris yang melindungi atau _menyelundupkan_ NICA ke wilayah Indonesia.

Pertempuran Surabaya juga telah menyebarkan, ke daerah-daerah yang paling jauh di Indonesia, kesadaran republiken, patriotisme yang tinggi, solidaritas seperjuangan di kalangan berbagai suku, agama, keturunan. Pengaruhnya bagaikan nyala api besar yang membakar semangat perlawanan sehingga muncul juga pertempuran di banyak tempat di Indonesia. (Untuk menyebut sekedar sejumlah kecil di antaranya : di Jakarta pada tanggal 18 November, di Semarang tgl 18 November, di Riau tanggal 18 November, di Ambarawa tanggal 21 November, di pulau Bangka 21 November, di Brastagi tanggal 25 November, di Bandung tanggal 6 Desember, di Medan 6 Desember, di Bogor tanggal 6 Desember).

Artinya, perjuangan melawan tentara Inggris (dan NICA) telah menggugah semangat patriotisme yang lintas-suku, lintas-agama, lintas-keturunan ras, dan lintas-aliran politik. Dengan semangat itu jugalah, rakyat Indonesia kemudian meneruskan, antara tahun 1945 sampai 1949, perjuangan melawan Belanda, sesudah tentara Sekutu (Inggris) meninggalkan Indonesia.

Sebagai warga negara Republik Indonesia yang menghargai sejarah dan menghormati jasa-jasa para  pahlawan yang telah gugur , segenap keluarga besar SMP Negeri 2 Cipanas pada hari Selasa tanggal 10 November 2015 menggelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan yang dilaksanakan di Lapangan Upacara. Upacara diikuti oleh seluruh siswa, dewan guru, dan Stap TU. Dalam kesempatan tersebut Pembina Upacara mengupas makna penting di balik Peringatan Hari Pahlawan bagi generasi penerus bangsa, khususnya kepada para siswa yang kelak akan memimpin.

Perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam memperjuangan kedaulatan NKRI adalah sebuah pengalaman berharga yang harus diteladani segenap koponen bangsa. Salah satu cara mengekspresikan diri bahwa kita menghargai hal tersebut, misalnya bisa berupa mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif, mengembangkan segenap potensi diri demi kemajuan bersama. Bagi para siswa, belajar dengan sungguh-sunguh adalah bukti kongkrit perhargaan kepada jasa-jasa para pahlawan.

Bila di zaman sebelum kemerdekaan berjuang adalah dengan ‘mengangkat senjata’, kini di masa setelah merdeka, berjuang bisa dengan hal lain. Perjuangan di bidang pendidikan salah satunya. Pendidikan sebagaimana dimaklumi sebelumya, adalah upaya yang dapat meningkatkan tarah hidup bangsa. Selama ini telah banyak bukti yang dapat menunjukan bahwa dengan pendidikan, bangsa-bangsa yang ‘minim Sumber Daya Alam’ bisa maju, bahkan bisa mengalahkan bangsa yang kaya ‘akan Sumber Daya Alam’. Hal ini mungkin bisa saja disebabkakan oleh karena bangsa yang memiliki Sumber Daya Manusia unggul, mereka mampu mengelola segenap pontensi yang ada di negaranya dengan baik dan tepat guna.

Salah satu bukti bahwa pemerintah menyadari peran strategis pendidikan dalam pembangunan bangsa, adalah adanya penghargaan bagi para guru. Bagi keluarga besar SMP Negeri 2 Cipanas, di bulan November ini, bertepatan juga dengan Hari Pahlawan, ada momen yang membanggakan sekaligus  membahagiakan. Karena tepat di tahun 2015 ini, ada beberapa dari guru SMP Negeri 2 Cipanas yang mendapatkan penghargaan Satya Lencana masa bakti mengajar 20 tahun.

Selamat kami ucapakan kepada Bapak Saepudin, M.Pd. (Wakil Kepala Sekolah); Agus Mujianto, S.Pd.; Endang Suparman, S.Pd.; Jajang Suhendar, S.Pd.; Agus Subroto, S.Pd.; Soni Sonjaya, S.Pd.; Mohammad Nasyir Ahyari, S.Pd.; Ibu Rahayu Purwiati, S.Pd.; Dra. Yanyan Widaaryani; Etik Handayani, SE, MM.; Siti Rohmah Kuraesin, S.Pd. Bio; dan Ida Farida Suryani, S.Pd. Pkn. Mudah-mudahan penghargaan tersebut bisa memotivasi Bapak dan Ibu untuk terus mengabdi kepada negeri. Ungkapan guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, semoga semakin bergema dan bermakna, di masa yang akan datang. Semoga.

Cianjur, 11 November 2015

Penulis: dysf, 2015