Pembelajaran Sastra Seni Melawan Reifikasi

Ibarat uang logam yang memiliki dua sisi, globalisasi dan kemajuan teknologi berjalan seiring menyuguhkan sisi positif dan negatif bagi kehidupan masa kini. Globalisasi membuka sekat-sekat aspek kehidupan menjadi terbuka dan tanpa batas.  Di lain sisi, tidak kalah gencarnya, kemajuan teknologi merebak ke berbagai belahan penjuru di dunia ini, menyentuh remah-remah dan sudut terjauh dari berbagai aspek budaya dan perdadaban berbagai bangsa.

Ungkapan “seni untuk melawan reifikasi” kiranya masih aktual diperbincangkan. Kemajuan teknologi dengan segala pernak-perniknya, jelas dapat memberi pengaruh. Dampaknya bisa seperti kecanduan akan mesin-mesin yang diciptakan sendiri. Bukannya manusia yang mempengaruhi sebuah teknologi, tapi sebaliknya pola pikir manusia yang terlalu mekanistis.

Dalam pandangan John  Naisbitt yang menulis buku “high tech high touch” pada tahun 1999, saat ini kita sedang berada di Zona Mabuk Teknologi yang gejalanya sebagai berikut: (1) kita lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi; (2) kita takut sekaligus memuja teknologi; (3) kita mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu; (4) kita menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar; (5) kita mencintai teknologi dalam wujud mainan; (6) kita menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Hal demikian tidak boleh terjadi, globalisasi dan kemajuan teknologi seharusnya membawa kemaslahatan bagi umat. Selain membentengi diri dengan penguatan pembelajaran aqidah dan akhlak (agama), salah satu cara untuk membentengi akibat negatif dari semua itu, pembelajaran sastra. Pembelajaran sastra diperlukan untuk membangkitkan kembali aspek-aspek humanis dari setiap individu yang sudah terkontaminasi ‘reifikiasi’.

Pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Sehingga dengan itu, dampak negatif globalisasi dan kemajuan teknologi dapat diminimalisir.

Dewasa ini pembelajaran sastra belum menyentuh esensi dari pesan sastra itu sendiri. Pembelajaran sastra masih berfokus pada karya sastra sebagai sebuah sistem yang dapat dipelajari dengan memecah unsur-unsurnya. Peserta didik seringkali diarahkan hanya untuk memahami karya sastra secara intrinsik. Sehingga produk akhir dari pembelajaran sastra, peserta didik hanya mampu menyebutkan bagian-bagian dari pemahaman pendekatan intrinsik terhadap karya sastra, seperti tema, sudut pandang, tokoh dan penokohan, dan lain-lain.

Di lain pihak, di kalangan peserta didik sendiri pelajaran sastra masih dianggap tidak urgen bila dibanding pelajaran eksakta. Sehingga banyak peserta didik yang tidak tertarik terhadap sastra. Padahal kebutuhan akan pemahaman sastra sangat penting dalam kehidupannya kelak, mengingat banyaknya manfaat yang terkandung di dalamnya.

Tujuan pembelajaran sastra ialah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman dari berbagai bacaan. Bukan hanya itu saja, peserta didik diharapkan  paham dan mampu terlibat secara inten di dalamnya. Pembelajaran sastra harus membuat peserta didik merasa senang membaca dan gemar mencari sumber bacaan.

Salah satu cara terbaik untuk membuat peserta didik tertarik kepada sastra ialah memberikan peserta didik lingkungan yang kaya dengan buku-buku sastra. Buku-buku yang dimaksud adalah buku yang berisikan karya sastra yang dipandang memiliki kandungan nilai-nilai positif, dan ilmu tentang sastra yang berguna, bermanfaat, serta dapat diaplikasikan dengan mudah oleh peserta didik.

Selanjutnya, berikanlah waktu yang cukup bagi peserta didik untuk membaca, dan mempelajari buku sastrat tersebut. Guru cukup memantau dan membahasnya. Intensitas yang sering dalam mengauli karya sasrta diharapkan menumbuhkan hasrat yang tinggi untuk mempelajari sastra.

Motivasi ini penting, karena dengan itu peserta didik akan tertarik mempelajari sastra dengan kesadaran sendiri tanpa ada unsur paksaan. Perlu kita ketahui bahwa sastra merupakan cerminan cipta, rasa, sikap, jiwa, pemikiran dari penyair atau pengarangnya. Apa yang telah disampaikan penulis haruslah  menjadi sebuah pembelajaran bagi peserta didik menuju arah yang lebih baik.

Hal tersebut tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Memang memahami sastra bukanlah perkara mudah, butuh pemahaman lebih dari berbagai aspek, pengetahuan, sumber-sumber yang mendukung, serta adanya bimbingan dari pendidik, dalam hal ini guru.

Salah satu bentuk nyata implementasi pembelajaran sastra adalah apresiasi terhadap karya sastra. Apresiasi sastra merupakan suatu kegiatan menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian yang baik terhadap sastra. Bentuk apresiasi sastra dapat dilakukan dengan melaksanakan kegiatan seperti pementasan drama, pembacaan puisi, menulis cerita pendek, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan sastra.

Aprsesiasi karya sastra adalah hal yang tidak boleh diabaikan karena peranannya yang sangat penting dalam pembelajaran sastra. Pembelarjaran dan materi ajar yang memberi ruang apresiasi karya sastra harus ditingkatkan, sebab dengan sering mengapresiasi karya sastra diharapkan peserta didik memiliki kesadaran untuk mencintai sastra, menemukan pelajaran-pelajaran berharga dari karya sastra yang telah dibacanya, sehingga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Deni Y. Sofyan

Tegallega, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *